Hiruk pikuk pemilihan Badan Permusyawaratan Desa (BPD) Desa Ncandi, Kecamatan Madapangga, Kabupaten Bima, Provinsi NTB, pada Sabtu 7 September 2019. Pelaksanaan pemilihan dilaksanakan sekitar pukul 08.00-12.00 Wita, di dusun dua yang meliputi Rt 05, 06, 07, dan 08. “Dimana yang bersaing dari nomor urut satu Samsi dengan raihan suara 68, Junaidin 58, Saiful Rahman meraih suara 96, Jainudin 58,” terang Jafar tim sukses Saiful Rahman. Kata dia, pada awalnya isu yang berkembang di tengah masyarakat bahwa Saiful Rahman adalah sosok dari pemuda Desa Bolo yang hanya memiliki keluarga istri saja,” katanya.
Jafar: Tim Sukses Saiful Rahman
Masih kata dia, keluarga besar menjadi penentu dari kemenangan politik bukan Money Politik. Ibarat kata uang bukan segala-segalanya,”. Jelasnya. Saiful Rahman yang memenangkan pertarungan mengungkapkan dirinya merasa bahagia dengan dukungan keluarga mertuanya sehingga mampu mengantarkan dirinya untuk menjadi BPD dan mengungguli lawan-lawannya. Ikhtiar dirinya guna membangun desa Ncandi sesuai tugas BPD pasca kemenangan yang diraihnya hari ini.
Koferensi merupakan kekuasaan tertinggi pada tingkat cabang, yang waktu pelaksanaan diputuskan pada pleno teakhir pengurus cabang HMI. Sebagaina halnya kongres, koferensipun berbentuk forum namun dilaksanakan di tiap tahun pada akhir periode pengurus cabang.
Dalam penjelasan konstutisi pada bagian pedoman struktur organisasi koferensi akan bisa terlaksana jikalau seluruh komisariat menyatakan sikap siap dan pengurus cabang akan melakukan pendataan dan memberikan data mutakhir pada SC (staring comite) koferensi, setelah itu SC akan memverivikasi jumlah anggota yang diutus. Namun demikian, terjadi penyimpangan/kejahatan struktural yang di desain secara sempurna dalam kepengurusan cabang 2018/2019.
Kepentingan ini muatanya menjual HMI dan mengatas namakan terwujudnya insan ulil albab dan terwujudnya masyarakat yang diridhoi Allah SWT yang sewaktu-waktu membuat HMI cabang Mataram akan dikenal sebagai lembaga alat pencari isi perut.
Bagaimana tidak pelaksanaan konfercab (koferensi cabang) tanpa pertimbangan matang membuat beberapa komisariat merasa dianak tirikan/diskriminasi oleh cabang sendiri, bahkan pergantian mendadak ketua panitia koferensi pengurus cabang tidak, diketahui oleh seluruh komisariat yang ada di cabang Mataram.
Terjadinya diskriminasi pada beberapa komisariat yang dilatar belakangi oleh kepentingan menunjukan sikap “totaliter” seolah HMI dijadikan “alat pencari isi perut” oleh pengurus HMI MPO cabang mataram periode 2018/2019. Hal ini sikapnya dalam penetuan tanggal konfercab (koferensi cabang) dan pergantian ketua panitia pelaksana konfercab yang mendadak, tanpa sepengetahuan bersama dan tidak ditimbang secara matang bahwa beberapa komisariat yang belum aktif di karenakan kampus masih libur, disini terlihat “keculasan” dan ketimpangan berbau kepentingan kelompok untuk menjual HMI.
Ejaan kalimat dalam tulisan ini sederhana mungkin sebagaivpemberitahuan jikalau konfercab (konferensi cabang) tidak di undur dalam hal menimbang bahwa :
Masih ada komisariat yang belum aktif secara total
Pelaksanaan konfercab (konferensi cabang) tidak sesuai dengan tanggal pelaksaan tahun sebelumnya/keputusan masih secara sepihak
Pergantian ketua panitia mendadak, belum jelas penyelesaianya.
Berdasarkan catatan sejarah, kondisi indonesia mulai pada masa kolonialisme sampai pada masa kini, indonesia dilanda berbagai macam problem yang terjadi, baik di internal bangsa maupun eksternal. Didalam internal bangsa sendiri dihadapkan dengan perbedaan kultur budaya, ras, suku dan agama, yang menyulitkan tokoh-tokoh bangsa untuk berpadu dalam menyatukan visi integrasi bangsa karena masih kedaerahan.
Kondisi negara masih belum stabil, pengaruh dan intimidasi luar masih sangat dominan (jepang & Belanda) dalam menguasai sistem ekonomi, politik, pendidikan maupun agama. Masyarakat yang masih hidup dibawah garis kemiskinan dan angka buta huruf yang tinggi, diuntungkan untuk para kaum kapitalis asing demi memenuhi tujuannya menguasai sepenuhnya kekayaan alam negara dengan memanfaatkan tenaga dan materialnya. Kerja paksa dan mengikuti aturan kolonialpun jadi hal yang tak dielakkan lagi. Akibat keterbelakan dan minimnya basis pengetahuan tentang pentingnya rasa persatuan diantara kelompok (daerah).
Guna untuk menangkis hal demikian, para tokoh bangsa dan para cendekia, serta tokoh agama yang sadar akan hal demikian. Mereka melakukan diskusi dan dialog secara intensif dalam waktu yang cukup lama, guna mencari solusi dan alternatif untuk bagaimana menyatukan aspirasi tiap-tiap daerah yang masih terpecah dan terkotak-kotak dalam kelompok kecil (suku, ras dan agama). Maka, dalam lika-liku perjalanannya tercetus ide crmerlang dari para unsur tersebut untuk membentuk sebuah wadah perkumpulan atas dasar kesamaan visi dalam membangun bangsa. Seperti terbentuknya partai-partai, dengan tujuan yang sama yang mengacu pada dasar-dasar sebuah negara secara universal.
Maka yang ingin saya tekankan kepada generasi sekarang yang hanya mengisi dan melanjutkan perjuangan tokoh bangsa dahulu. Eloklah kiranya untuk bagaimana menghindari terjadinya terpecah belah (fragmentasi) diantara semua kalangan, jangan terlalu fanatik buta terhadap fenomena yang terjadi dari analisa perseorangan. Sebenarnya, kalaupun kita cukup jeli melihat realitas yang terjadi di sekitar kita, banyak sekali potensi yang ada. Diberbagai bidang keahlian bercorak dan plularalis. Karena berbeda itu rahmat, maka yang diinginkan sebenarnya adalah dialog dan diskusi untuk mencapi solusi yang tepat dalam melerai problem sosial yang kian pelik di hadapan kita. Sadar ataupun tidak, kita hari ini telah ditipu oleh fenomena palsu yang akan membuat kita renggang dalam visi keumatan yang secara substansial perlu dibenahi dan dibangun. Dalam perspektif saya, kita berpikir mundur, karena sibuk dengan urusan orang lain yang belum tentu mengamini apa yang kita ingini, namun kalaupun kita secara akumulatif tergolong dalam suatu forum dialog dan diskusi. Kemudian hasilnya dievaluasi dan diimplementasikan dalam suatu barisan untuk kepentingan bersama, niscaya akan miliki nilai guna yang bagus.. Wassalam
Kata “bully” sering terlontar dan terdengar tak asing lagi di kuping kiri maupun kanan kita, dalam kehidupan sosial masyarakat kita justru sering sekali terdengar dan kita lihat langsung dalam realitas sosial, ataupun prilaku bullyan itu sering juga kita lihat dalam keseharian kita, memang peristiwa ini tidak jauh dari keseharian kita.
Namun saya tidak ingin terlalu jauh masuk ingin menjelaskan panjang lebar tentang bagaimana perilaku hina itu dipraktekkan secara massif sehingga perilaku itu succes untuk menyerang dan mematikan rival kita, Tidak !!! Namun saya melihat ada memang, bagian dari klasifikasi masyarakat yang cenderung untuk menyikapi hal- hal yang ketika ketakpuasan bathin dari golongan mereka sang Pembully ini dalam kaitannya dengan hal-hal vital dan urgent, supaya golongan ini mendapatkan perhatian khusus untuk ajang unjuk gigi dan alay-alaynya mereka, hehe !!!
Ketika tidak diperhatikan dalam hal keberlangaungan anggotanya misal, tidak di lirik terkait hajatnya sebagai golongan yang menurut mereka harus dihormati, maka perilaku bully itupun mereka praktekkan untuk menjatuhkan rivalnya, tanpa mempertimbangkan sisi positifnya asalkan mereka dilirik dan asal membuat mereka senang saja (ammss). Namun, perihal demikian pihak yang dibully juga menjawab bullyan dari golongan pembbully itu sendiri dengan karya-karya nyata. Mereka memilih menutup kuping untuk sesuatu yang tidak penting untuk direspon dengan terlalu serius. Pihak inipun memilih jalan untuk terus bekerja dan bekerja, kemudian untuk mematahkan dan melumpuhkan pihak pembully itu dengan memunculkan narasi, gagasan dan karya-karya nyata mereka, tak peduli dengan sampah. Begitu kira-kira saya baca isi hatinya.. Mm.
Nampaknya konsepnya gubernur DKI di plagiasi oleh pihak yang di bully ini. Tapi, jauh sebelum adanya pernyataan dan konsep seorang gubernur juga, kita sudah dihadapkan dengan permasalahan sosial soalan bully-membully. Hadirnya kalangan aktivis, akademisi yang dari awal adalah titipan masyakat untuk memberi pencerahan pandangan gemilangnya terkait persoalan bully atau saling serang dengan cacian ini diharapkan mampu menetralisir keadaan, malah membuka ruang baru permasalahan yang ada, dan menambah pelik masalah yang ada.
Apalagi hadirnya media digital sebagai wadah untuk saling serang dengan kata-kata kotor. Misal di fb, ig dll. Itu bisa saja menggiring kebenaran awal menjadi salah, malah menambah ruwet urusan sosial. Mulai menjangkau ranah yang sangat pribadi sekalipun, membuka aib rival dengn cara-cara bejat, sehingga urusan yang dulunya biasa-biasa saja menjadi sulit di lerai.
Tujuan mereka supaya pihak yang menjadi bahan untuk di bully menjadi “Common Enemy” (Musuh bersama), inilah yang menjadi tujuan mereka. Lantaran karena mulut-mulut kotor itulah persahabatan akan menjadi renggang, keluarga tak lagi menjadi pertimbangan dan lain-lain.
Saat selimut tak mampu menyelimuti dinginnya malam, kala itu aku hanya ingat tentang “Kopi”. Bagaimana tidak, tatkala yang lain kucarikan solusi dan alternatifnya untuk memanaskan otak dan hatiku yang ling-lung. Tentu saja, yang hadir dan berani menawarkan diri tentang kehangatan hanyalah segelas Kopi, dan ia pulalah yang paling dekat dan dapat kuraih cepat-cepat. Kebetulan, disebelah timur rumah aku ada alfamart yang selalu sediakan kopi langsung seduh.
Malam minggu telah tiba, angin menghempas deras dikuping kiri dan kanan, kini aku terasa seperti membeku, janji ingin keluar dengan teman yang kuajak sore tadi seketika dibatalkan. Aku pilu, namun tak bisa kusembunyikan hatiku yang menggelora sejak sore tadi, kala sang teman mengiyakan untuk keluar malam minggu ini. Aku tak ingin iya kecewa, namun apalah daya angin dan cuaca malam ini tak memungkinkan untuk keluar malam. Sementara kondisi tubuh aku yang kurang fit memaksa aku untuk tidak keluar. Ilmu fisika kayaknya mengatakan, kalau malam ini semesta tidak mendukung.
Kopi malam ini adalah yang paling kuingini. Kuteguk ia pelan-pelan hingga waktu kian tak bermakna lagi, kecewaku kian membludak saat kubatalkan janji yang sontak kuucap tadi. Aku ingin larut malam ini, larut bersama kopi dalam wadahnya, seraya tak peduli kondisi yang ada. “Biarlah, biarlah,”, aku tak mungkin memutar waktu kembali, malam minggu ini, kuanggap saja malam jum’at, biar pikiran yang ling-lung tak menghampiriku. Kini aku, hanya sendiri ditemani secangkir kopi, aku ingin larut selarut-larutnya.
Salah seorang pemuda yang kini menjadi bakal calon BPD (badan permusyawaratan desa) memberi tanggapan terkait maraknya masyarakat yang ramai-ramai mengikuti calon anggota BPD ini. Dia adalah Mulyadin, yang juga merupakan seorang guru sukarela, mengutarakan “Kalau ajang pencalonan BPD ini bukan untuk malah merenggangkan hubungan keluarga, melainkan sebaliknya yaitu untuk memperkokoh antara satu sama lain. Namun, tak dapat disangkal momen pemilihan BPD tahun ini merupakan yang paling seru dan asyik, disebabkan karena banyak peserta yang memperebutkan kursi dan ini akan memberi dampak positif terhadap pelaksanaan pesta demokrasi sebagaimana tertuang dalam amanat Undang-Undang, demokrasi kian membenahi dirinya mulai dari tingkat pusat ke daerah-daerah. Maka, dengan demikian patut kiranya kita menjaga dan mengamankan bersama jalannya prosesi pemilihan calon BPD ini lanjut Mulyadin. (Read).
Dari delik mana saja, desa ini memang punya pesona lain, entah posisi saya sebagai orang baru disini, sehingga terlalu berlebihan takjub dengannya. Tapi entahlah, yang sudah lama menetap di sekitaran Wilayah ini juga, tidak bosan-bosannya datang berkunjung hanya sekedar melihat pesona desa yang khas ini. Pujon Kidul namanya, desa yang menurut pengamatan saya, punya potensi dari segala sisi, adat, budaya, ekonomi, pertanian, dan perkebunan terasa seperti hal yang istimewa.Terletak di dataran tinggi, sehingga memungkinkan warga untuk tekun dan giat dalam aktivitas budidaya. Tata letak yang teratur, rapi dan sikap warga lokal yang ramah, Menambah daya tarik pengunjung untuk terus mengulik tentang apa saja suguhan lain yang menarik dari desa ini. . .
Aku adalah seorang hamba Tuhan yang termanifestasi di alam raya, mencari dan terus mencari jati diri. Ingin menggali potensi dalam diri, untuk kemudian di pancarkan nilai guna dan manfaat untuk seluruh alam. Pengalaman-pengalaman pahit dan manis biarlah menjadi pelajaran berharga dalam hidup dan kehidupankku kini dan nanti. Syukur nikmat barang kali menjadi catatan dalam mencapai cita dan harapan terbesar dalam realitas kehidupan.
ADALAH SOLUSI CERDAS BAGI MASYARAKAT, PEGAWAI, KARYAWAN, DAN SISWA PUTUS SEKOLAH UNTUK MEMILIKI IJAZAH RESMI NEGARA SETARA SD –SMP–SMA DENGAN AKREDITASI SEKOLAH A (UNGGUL)